KBB – Animo masyarakat Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB), untuk mendaftarkan anak mereka ke Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri pada tahap Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) Tahun Ajaran 2026/2027 terbilang tinggi. Tingginya minat tersebut terlihat dari membeludaknya calon peserta didik yang mengikuti proses pemetaan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Sindangkerta, Asep Setiawan, mengungkapkan bahwa pada awal pembentukan grup WhatsApp informasi PCMB, jumlah anggota sempat mencapai 800 orang. Namun, setelah diverifikasi, angka tersebut rupanya mencakup data ganda antara calon murid dan orang tua.
"Setelah dianalisis, jumlah pendaftar riil sekitar 450 calon murid. Banyak anggota grup yang merupakan orang tua mendampingi anaknya," ujar Asep, Rabu (10/6/2026).
Asep menjelaskan, sebagian besar pendaftar dari wilayah Sindangkerta dan sekitarnya memilih datang langsung ke sekolah. Hal ini dipicu oleh keterbatasan akses internet serta faktor gagap teknologi di kalangan masyarakat.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pihak sekolah membuka layanan pendampingan dengan menyiagakan sejumlah relawan.
"Banyak warga datang langsung karena tidak memiliki jaringan internet memadai atau belum terbiasa menggunakan aplikasi pendaftaran. Karena itu, kami menyiapkan relawan untuk membantu prosesnya hingga selesai," tuturnya.
Asep menambahkan, sebelum adanya kebijakan perpanjangan masa pemetaan, pihak sekolah bahkan sempat melayani masyarakat hingga pukul 22.00 WIB pada hari terakhir pendaftaran akibat tingginya antrean orang tua murid.
Kendati demikian, tingginya minat masyarakat ini tidak sebanding dengan kuota yang tersedia. Saat ini, kapasitas penerimaan dibatasi maksimal 36 siswa per rombongan belajar (rombel). Dengan total 10 rombel yang tersedia, SMAN 1 Sindangkerta hanya mampu menampung sekitar 360 siswa.
"Kami sering mendapat pertanyaan dari masyarakat mengapa jumlah siswa yang diterima sekarang lebih sedikit. Sebab pada tahun sebelumnya, ada kebijakan yang memungkinkan jumlah siswa per kelas mencapai hingga 50 orang," kata Asep.
Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan penambahan kapasitas siswa per kelas, khususnya bagi sekolah negeri di daerah dengan peminat tinggi. Langkah ini dinilai dapat mengakomodasi hak pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, Asep memaparkan salah satu faktor utama SMAN 1 Sindangkerta menjadi pilihan favorit adalah dibebaskannya biaya pendidikan. Operasional sekolah kini sepenuhnya ditopang oleh dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPD).
"Karena sudah tidak ada pungutan biaya pendidikan, masyarakat tentu jauh lebih memilih sekolah negeri dibandingkan swasta," pungkasnya.