Oleh: Subchan Daragana, S.Sos., M.I.Kom.
(Ketua IPSM Provinsi Jawa Barat – Akademisi Universitas Bakrie)
"Mencetak Komunikator Sosial dari Akar Rumput"
Selama ini, kita mengenal influencer sebagai figur yang memiliki banyak pengikut dan mampu memengaruhi perilaku publik. Kendati demikian, dalam ranah sosial, ukuran pengaruh seharusnya tidak berhenti pada jumlah followers (pengikut). Pengaruh yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk membuat orang peduli, bergerak, dan ikut mengambil bagian.
Inilah semangat yang ingin dibangun melalui The Best IPSM Competition 2026. Menghadirkan sekitar 200 calon influencer dari berbagai daerah di Jawa Barat, program ini tidak boleh hanya dipandang sebagai kompetisi membuat konten semata. Lebih dari itu, ajang ini merupakan langkah awal membangun IPSM Social Influencer Movement, sebuah gerakan untuk mencetak komunikator sosial dari akar rumput.
Mengapa Ini Penting?
Sebab, Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) dan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) memiliki sesuatu yang sangat berharga: cerita nyata dari tengah masyarakat. Setiap hari, ada persoalan yang ditemukan, warga yang didampingi, anak yang dibantu, lansia yang diperhatikan, lingkungan yang digerakkan, serta berbagai kerja baik lainnya.
Namun, kerja-kerja baik tersebut sering kali berhenti di tempat ia dilakukan. Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak diceritakan.
Di era digital, cerita adalah kekuatan. Ketika kerja nyata didokumentasikan dan dikomunikasikan dengan baik, sebuah persoalan lokal dapat bertransformasi menjadi perhatian publik. Dari perhatian, akan tumbuh kepedulian. Dari kepedulian, dapat lahir dukungan. Pada gilirannya, dari dukungan tersebut akan terbuka peluang kolaborasi yang luas.
Oleh karena itu, 200 peserta The Best IPSM Competition tidak seharusnya berhenti sekadar sebagai peserta setelah kompetisi usai. Mereka perlu dipandang sebagai 200 titik komunikasi IPSM di Jawa Barat yang dapat terus dibina, didampingi, dan dikembangkan menjadi jaringan komunikator sosial yang tangguh.
Bayangkan jika mereka konsisten memproduksi cerita tentang kerja sosial di daerah masing-masing. IPSM akan memiliki wajah yang jauh lebih hidup di ruang digital:
Bukan hanya bekerja di lapangan, tetapi juga hadir di ruang publik.
Bukan hanya dikenal karena organisasinya, melainkan dikenal karena dampak kerjanya.
Lebih dari itu, publikasi ini dapat menjadi jembatan strategis menuju kemitraan. Ketika dunia usaha, filantropi, pemerintah, perguruan tinggi, media, dan komunitas melihat langsung persoalan serta kerja nyata di lapangan, mereka akan memiliki alasan kuat untuk hadir dan terlibat.
Ukuran Keberhasilan yang Sesungguhnya
Maka, ukuran keberhasilan program ini bukanlah sekadar seberapa banyak followers, likes, atau views yang diperoleh. Ukuran yang jauh lebih esensial adalah:
Berapa banyak orang yang menjadi peduli?
Berapa banyak pihak yang kemudian bergerak?
Berapa banyak kolaborasi yang lahir?
Berapa besar perubahan positif yang terjadi di tengah masyarakat?
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara influencer biasa dan influencer sosial IPSM.
"Kita tidak sedang mencari siapa yang memiliki pengikut terbanyak. Kita sedang mencari siapa yang mampu menggerakkan lebih banyak orang untuk peduli."
Sebab, pada akhirnya, perjalanan transformasi komunikasi IPSM bukanlah sekadar urusan media sosial, melainkan tentang siklus kebermanfaatan:
Inilah yang sedang kita bangun bersama.
Bukan sekadar lomba.
Bukan sekadar konten.
Bukan sekadar influencer.
Tetapi wajah baru IPSM Jawa Barat: organisasi yang hadir di tengah masyarakat, mampu bercerita tentang kerja nyatanya, membangun kepercayaan, menghubungkan berbagai kekuatan, dan memperbesar dampak sosial secara berkelanjutan.
Kita Hadir.
Kita Peduli.
Kita Berdampak.