12
Oktober 2026 01:43 WIB
SOSIAL, KESEHATAN & LINGKUNGAN 161 Kali Dilihat

Krisis Kemanusiaan dari Majalaya, Masa Depan Penyintas Thalasemia Kabupaten Bandung Dipertaruhkan

Acep

Acep

Penulis

Krisis Kemanusiaan dari Majalaya, Masa Depan Penyintas Thalasemia Kabupaten Bandung Dipertaruhkan

Majalaya | Kabupaten Bandung merupakan kantung thalasemia Jawa Barat, dan Jawa Barat merupakan sabuk thalasemia Indonesia. Hal ini menjadikan Kabupaten Bandung menghadapi krisis kemanusiaan serius akibat tingginya prevalensi kasus talasemia mayor yang mengancam masa depan anak-anak penyintas. Hal tersebut mengemuka dalam konsolidasi kemanusiaan dan aksi donor darah yang digelar Yayasan REDTI KITA SEHATI di Imah Thalasemia Koni, Desa Majakerta, Kecamatan Majalaya, Sabtu (10/10/2026).  

Di tengah acara sharing session, Ketua Yayasan REDTI KITA SEHATI, Hendi Resmawan menyampaikan keprihatinannya atas rendahnya kepekaan para pemangku kebijakan terhadap isu kemanusiaan ini. "Kami mengundang anggota DPRD Kabupaten Bandung asal Dapil V, namun tak satupun yang berkenan hadir. Mungkin isu thalasemia ini belum dianggap penting bagi mereka, begitu pula dengan pihak Dinas Kesehatan yang tidak jadi dan RSUD Majalaya yang juga tidak hadir. Tapi Alhamdulillah masih ada Kepala Puskesmas Cikaro dan Kasie Sosbud yang mewakili Kecamatan Majalaya yang hadir," ujar Hendi Resmawan.

Lebih lanjut Hendi mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi thalasemia Kabupaten Bandung termasuk berbagai solusi yang telah dilakukan oleh REDTI. Selain perlunya perlindungan kesehatan lewat jaminan BPJS PBI, peningkatan pelayanan kesehatan thalasemia yang paripurna terutama di RSUD Majalaya yang saat ini belum memiliki dokter spesialis hematologi, angka kematian thalasemia yang masih tinggi, tingkat perceraian orang tua penyintas thalasemia yang masih tinggi, fenomena gunung es thalasemia Kabupaten Bandung, pemberdayaan ekonomi dan pendidikan penyintas thalasemia terutama yang drop out. Serta banyak lagi pekerjaan rumah yang dihadapi penyintas thalasemia di Kabupaten Bandung.

"Kegiatan di Imah Thalasemia kali ini selain menggelar acara donor darah rutin dan berkelanjutan sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam memenuhi kebutuhan darah penyintas, kita pun menggelar acara sharing, santunan dan hiburan musik untuk menghibur para pendonor, penyintas dan orang tua thalasemia," tandas Hendi Resmawan.

Sementara itu, Pembina Yayasan REDTI KITA SEHATI, Denni Hamdani, menegaskan bahwa penanganan thalasemia bukan sekadar persoalan medis, melainkan tanggung jawab moral bersama yang menuntut keterlibatan aktif lintas sektor melalui kolaborasi pentahelix. Senada dengan hal tersebut, Atep Kusman, PSM (Pekerja Sosial .Masyarakat) Jawa Barat mengingatkan para pemangku kebijakan agar menempatkan isu ini sebagai skala prioritas. "kita sebagai manusia harus bisa memberikan manfaat bagi sesama," tegas Atep.  

Meskipun minim dukungan dari sebagian pejabat dan instansi terkait, kegiatan yang dihadiri oleh jajaran pengurus yayasan, unsur pemerintah kecamatan, serta para kepala puskesmas ini tetap fokus memperkuat langkah preventif.

Dokter Puskesmas Cikaro, dr. Tasya, menjelaskan bahwa talasemia merupakan kelainan genetik yang menyebabkan kerusakan sel darah merah lebih cepat, sehingga pasien membutuhkan transfusi darah rutin dan pengobatan jangka panjang. Sebagai langkah pencegahan penularan genetik, pihak puskesmas mengimbau calon pasangan suami istri untuk melakukan skrining kesehatan sebelum menikah.  Ia pun berpesan kepada para orang tua yang hadir agar selalu disiplin meminum obat kelasi besi agar tidak terjadi penumpukan zat besi pada organ tubuh anak-anak penyintas.

Kepala Puskesmas Cikaro, dr. Dita, menambahkan bahwa penguatan kerja sama tenaga kesehatan dan masyarakat merupakan bentuk panggilan kemanusiaan yang harus terus dijaga.  

Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Majalaya melalui Kepala Seksi Sosial dan Budaya (Kasie Sosbud),  Kustati menyampaikan apresiasi penuh atas dedikasi Yayasan REDTI yang konsisten mendampingi pasien serta menyediakan akses pendidikan setara melalui program homeschooling dan PKBM inklusif. Pihak kecamatan bahkan menyarankan agar agenda lanjutan dapat diselenggarakan di aula kantor kecamatan guna memperluas sosialisasi dan menggalang semangat gotong royong warga.  

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!