11
Oktober 2026 08:38 WIB
SOSIAL, KESEHATAN & LINGKUNGAN 14 Kali Dilihat

Dita Jumarya: Edukasi Ampuh Putus Mata Rantai Genetik Thalasemia

AKusman

AKusman

Penulis

Dita Jumarya: Edukasi Ampuh Putus Mata Rantai Genetik Thalasemia
Gita Jumarya Kepala Puskesmas Cikaro Majalaya

MAJALAYA - Thalasemia adalah kelainan produksi darah yang dialami oleh individu-individu tertentu. Kelainan ini disebabkan oleh sifat genetik yang diturunkan. 

 

Demikian dikatakan dr. H. Dita Jumarya, saat menjadi narasumber pada giat kepedulian sosial donor darah yang dilaksanakan ReDTIKITA berkolaborasi dengan PMI Kota Bandung, di Bale Rahayu Majalaya, Sabtu (10/10/2026). 

 

"Jadi apa yang terjadi pada individu yang memiliki kelainan thalasemia itu diwariskan secara genetik oleh orang tuanya," kata Dita. 

 

Apabila kedua orang tuanya memiliki sifat thalasemia, kata dia, maka seseorang yang dilahirkan dari pasangan tersebut akan mengalami kelainan. 

 

"Perkembangan penurunan atau peningkatan, jujur ini bukan efek dari daya tular atau efek dari pergaulan penderita atau penyintas. Tapi efek dari pertemuan pasangan-pasangan atau calon pasangan," ujarnya. 

 

"Kalau mencegah, kita mengalami kesulitan karena berhubungan dengan sosial masyarakat. Masa kita mau mencegah orang yang mau menikah? Tapi ternyata harus dibatalkan. Contoh seperti itu. Memang sesuatu sulit untuk dirubah, kalau ada niatan untuk menikah," ujarnya. 

 

Meski demikian, ia berusaha untuk membangun para penyintas thalasemia ini memiliki sosok masa depan yang baik. Artinya bisa sekolah, mengenyam pendidikan tinggi, bisa hidup sehat, tidak terserang penyakit, tidak jatuh sakit dan diperhatikan pengelolaannya.

 

Untuk memutus rantai penurunan penyintas thalasemia itu, katanya, lebih kepada pemberian edukasi kepada masyarakat, terutama ke lingkungan remaja. Lingkungan remaja ini misalnya sudah pubertas, kemudian cari pasangan. Sehingga mereka perlu diberikan edukasi dan pemahaman terkait dengan penyintas thalasemia dan keturunannya. 

 

"Kita harus tahu bahwa yang bersangkutan ini memiliki resiko thalasemia. Agar dalam memiliki pasangan tidak sama-sama memiliki potensi thalasemia. Paling itu untuk memutus rantai penurunan sifat genetik thalasemia," katanya.**

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!