14
Oktober 2026 18:39 WIB
EKONOMI 22 Kali Dilihat

Gerakan Pengendalian OPT Serentak Se- Jabar

AKusman

AKusman

Penulis

Gerakan Pengendalian OPT Serentak Se- Jabar
Serentak Jabar Lakukan Pengendalian OPT

BANDUNG - UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jawa Barat bersama POPT, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dan Kelompok Tani melaksanakan Gerakan Pengendalian OPT (Organisasi Pengganggu Tumbuhan) serentak se-Jawa Barat.

 

Gerakan Pengendalian OPT ini dipusatkan di Gapoktan Margaasih Berkah Mandiri Desa Margaasih Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung, Rabu (14/10/2026). Selain itu dilaksanakan secara serentak di 230 lokasi se-Jawa Barat dan sekitar 400 peserta yang mengikuti gerakan pengendalian OPT serentak ini melalui zoom. 

 

Kegiatan ini dihadiri Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dr. Rachmat S.Si., M.Si., Kepala UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Ir. R. Nungke Rochjatti M.P., Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Saeful Argandi, SP., M.P., Camat Cicalengka Cucu Hidayat atau yang mewakili, Kepala Desa Margaasih Yayan Suryana, dan para petani yang ada di Desa Margaasih. 

 

Selain itu diikuti secara zoom oleh kelompok tani di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, di antaranya dari Majalengka, Garut, Cianjur, Sukabumi, Bogor, Pangandaran, dan kabupaten/kota lainnya.

 

Pada saat itu, para petani serentak melaksanakan pengendalian OPT dengan cara melakukan penyemprotan tanaman padi dengan agen pengendalian hayati. Dengan gerakan pengendalian ini dapat mendorong swasembada pangan berkelanjutan. 

 

Usai penyemprotan, para petani pun mendapatkan edukasi dan wawasan terkait dengan tiga jenis OPT, yakni hama, penyakit, dan gulma, yang menyebabkan kerugian pada tanaman. 

 

Hama berupa wereng hejo, wereng coklat, penggerek batang, keong, hama putih, tikus, kungkang dan lainnya. Sedangkan penyakit berupa blash, keresek, tungro, dan penyakit lainnya. Sehingga perlu dilakukan pengelolaan hama terpadu.

 

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dr. Rachmat S.Si., M.Si., mengatakan gerakan pengendalian OPT serentak dengan melibatkan 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat ini adalah bagian dari ikhtiar bersama agar hasil panen padi ini bisa lebih optimal. 

 

"Gerakan pengendalian OPT ini tercermin nilai-nilai gotong royong, kekompakan, kebersamaan kita semua, dan ini sangat luar biasa. Kunci pengendalian OPT ini adalah kekompakan," katanya.

 

Ia menegaskan apabila ada satu atau dua lahan tidak mengikuti gerakan pengendalian OPT, tentunya akan menjadi sumber hama bagi lahan pertanian padi atau sawah di sekitarnya. 

 

"Gerakan kekompakan dan kebersamaan dan gotong royong ini menjadi penting. Di Desa Margaasih, jiwa gotong royong, kekompakan dan kebersamannya sangat luar biasa," ucapnya.

 

Rachmat mengajak kepada para petani dalam pengendalian OPT kedepan ramah lingkungan, biaya hemat dan hasil panennya sehat. 

 

"Kita mendorong gapoktan dalam pengendalian hama dengan menyediakan sarana secara mandiri. Tidak bergantung ke bahan-bahan yang harus beli. Manfaatnya hemat biaya. Bahan-bahan alami di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk pengendalian haman penyakit," harapnya. 

 

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ir. Hj. Ina Dewi Kania, M.P., melalui Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Saeful Argandi, SP., MP., apresiasi dengan dilaksanakannya gerakan pengendalian OPT serentak se-Jawa Barat yang dilaksanakan di Desa Margaasih sebagai tuan rumah. 

 

Saeful juga usul kegiatan serupa bisa dilaksanakan pula di desa-desa lainnya. Pada kesempatan itu pula, Saeful mensosialisasikan akan dilaksanakan kegiatan Tani Fest pada 20 Oktober 2026 mendatang.

 

Kepala UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Ir R Nungke Rochjatti M.P., mengatakan gerakan pengendalian OPT ini dalam upaya melindungi tanaman pertanian dari ancaman organisme pengganggu tumbuhan. 

 

"Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan. Namun demikian, upaya peningkatan produksi pertanian senantiasa menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tumbuhan," kata Nungke. 

 

Menurutnya, serangan OPT yang tidak terdeksi dan tertangani secara tepat dapat berkembang menjadi lebih luas. Oleh karena itu, pengendalian OPT perlu dilaksanakan secara terencana, terpadu, tepat sasaran dan berkelanjutan. 

 

"Gerakan Pengendalian OPT serentak se-Jawa Barat dilaksanakan sebagai langkah nyata untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat sinergi seluruh pihak dalam mencegah perkembangan serangan OPT serta mengamankan produksi di Jawa Barat," ungkapnya.  

 

Ia menyebutkan adapun tujuan kegiatan ini adalah, pertama meningkatkan kewaspadaan dan mengamankan pertanaman dari serangan OPT. Kedua, meningkatkan pengetahuan, kesadaran/kepedulian, dan partisipasi petani dalam pengendalian OPT. Ketiga, mendorong penerapan pengendalian yang ramah lingkungan dan penggunaan pestisida secara bijaksana apabila diperlukan. Keempat, terbangunnya koordinasi yang lebih efektif antara petugas POPT, Penyuluh Pertanian, Pemerintah Daerah, dan Petani. 

 

Nungke mengatakan, keberhasilan gerakan pengendalian OPT serentak ini sangat bergantung pada keberlanjutan pengendalian dan kekompakan di lapangan pasca-gerakan.

 

Kepala Desa Margaasih Yayan Suryana mengucapkan terima kasih dan apresiasi dengan dilaksanakannya gerakan pengendalian OPT serentak se-Jawa Barat yang dipusatkan di Desa Margaasih Kecamatan Cicalengka sebagai tuan rumah. 

 

"Gerakan pengendalian OPT ini diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian padi di Desa Margaasih. Selain itu dapat meminimalisir serangan OPT yang berdampak pada tanaman padi," katanya.**

Tags: #optsejabar

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!