DAYEUHKOLOT — Sejarah baru sedang diukir di tanah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Tepat pada Jumat, 12 Juni 2026, riuh suara mesin alat berat memecah keheningan di kawasan saluran irigasi Cipalasari. Saluran air yang selama tiga dekade terakhir terabaikan dan luput dari perhatian, kini mulai disentuh oleh pengerukan demi membebaskan warga dari bayang-bayang banjir tahunan.
Kehadiran Bupati Bandung, Dadang Supriatna (Kang DS), di lokasi peninjauan siang itu membawa angin segar sekaligus harapan baru. Mengenakan pakaian dinas lapangan, Kang DS menyaksikan langsung bagaimana endapan lumpur yang menyumbat urat nadi aliran air tersebut mulai diangkat. Kehadirannya menjadi simbol dukungan penuh pemerintah daerah terhadap jeritan warga yang sudah puluhan tahun akrab dengan genangan air setiap kali musim hujan tiba.
Momentum bersejarah ini tidak lahir begitu saja, melainkan buah dari buah kerja keras dan kolaborasi erat lintas sektor. Di bawah payung program Pentahelix, Ketua Pentahelix Kecamatan Dayeuhkolot, Triharyono, berhasil menjembatani komunikasi yang tersumbat selama ini. Ia menyatukan gerak langkah Dirjen Sumber Daya Air (SDA), Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jawa Barat, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta Pemerintah Kecamatan Dayeuhkolot untuk turun tangan bersama.
Tanpa mengenal lelah, Triharyono terus mengawal jalannya normalisasi dan pengerukan ini. Di bawah terik matahari, ia memantau setiap jengkal pergerakan alat berat yang sedang mengembalikan fungsi sungai. Baginya, ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah misi perubahan nyata agar pemandangan lumpuh total di Jalan Raya Mohammad Toha tepatnya di depan Metro dan PT Dahlia Tex tidak kembali terulang saat awan hitam menggelayuti langit Bandung.
"Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta berkolaborasi dan para pengusaha berpartisipasi, agar masalah ini segera teratasi", pintanya.
Kini, optimisme membubung tinggi di kalangan masyarakat. Area vital yang meliputi Kelurahan Pasawahan, Desa Citeureup, hingga Desa Dayeuhkolot diharapkan segera merdeka dari kepungan banjir. Kolaborasi makro ini membuktikan bahwa masalah menahun yang semula dianggap mustahil untuk diselesaikan, ternyata bisa diurai ketika semua pihak mau duduk bersama dan bergerak dalam satu visi yang sama.
Program Pentahelix di Kecamatan Dayeuhkolot ini sekaligus menjadi bahan evaluasi dan refleksi berharga bagi warga sekitar. Keberhasilan pengerukan irigasi Cipalasari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab bersama. Diperlukan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran air ini secara bergotong-royong, agar sejarah baru yang diukir hari ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.