Cililin, KBB – Penumpukan sampah organik dan anorganik terjadi di Tempat Penampungan Sementara (TPS) SMAN 1 Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kondisi ini dipicu oleh keterlambatan pengangkutan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB, yang menyebabkan tumpukan sampah membusuk dan berpotensi mencemari lingkungan sekolah.
Kepala SMAN 1 Cililin, Saepul Muhtadin, mengungkapkan bahwa volume sampah harian di sekolahnya terbilang tinggi. Dengan jumlah siswa mencapai 1.400 orang, sampah yang dihasilkan dari aktivitas kelas, enam kantin, serta sisa makanan dan plastik terus menumpuk saban hari.
Padahal, pihak sekolah telah menjalin kerja sama resmi dengan DLH KBB untuk pengangkutan sampah secara berkala. Berdasarkan kesepakatan awal, pengangkutan idealnya dilakukan seminggu sekali. Namun, pada praktiknya jadwal tersebut kerap meleset hingga dua sampai tiga pekan.
"Seharusnya pengangkutan dilakukan seminggu sekali, tetapi kenyataannya sering terlambat hingga dua sampai tiga minggu. Selain itu, kendaraan yang dikerahkan berukuran kecil, sehingga tidak mampu mengangkut seluruh sampah sekaligus," ujar Saepul, Kamis (30/7/2026).
Keterbatasan kapasitas armada tersebut memperparah keadaan. Menurut Saepul, petugas biasanya hanya mengambil sampah di bagian atas, sementara sampah di bagian bawah terbiarkan hingga membusuk dan menimbulkan bau tidak sedap.
Saepul menegaskan bahwa SMAN 1 Cililin selalu melunasi kewajiban retribusi pengangkutan sampah ke DLH KBB setiap bulannya. Oleh karena itu, ia berharap DLH dapat meningkatkan kualitas pelayanan melalui ketepatan jadwal dan penyediaan armada berkapasitas lebih besar. Selain perbaikan armada, sekolah juga mengusulkan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang lebih memadai.
Ketergantungan sekolah terhadap armada DLH dinilai sangat vital. Pasalnya, sebagai peraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional, SMAN 1 Cililin terikat aturan ketat yang melarang aktivitas pembakaran sampah di area sekolah.
Sebagai informasi, predikat Sekolah Adiwiyata Nasional tersebut diraih SMAN 1 Cililin dari Kementerian Lingkungan Hidup pada Desember 2025 lalu di Jakarta. Guna mempertahankan predikat berprestasi tersebut, sekolah terus mengedukasi para siswa untuk menjaga kebersihan dan merawat lingkungan.
"Kami sangat berharap pengangkutan sampah dapat dilakukan tepat waktu dengan armada yang memadai. Dengan begitu, kebersihan lingkungan sekolah tetap terjaga dan predikat Sekolah Adiwiyata Nasional dapat terus kami pertahankan," pungkas Saepul. (*)