Majalaya - Di sebuah sudut teras berlantai keramik putih di Imah Thalasemia, Desa Majakerta, Kecamatan Majalaya, sayup-sayup terdengar suara ejaan huruf bahasa Inggris. "A, B, C, D..." suara riang anak-anak itu bersahutan, dengan Miss Cintya meniti abjad demi abjad yang tertulis di sebuah papan tulis putih kecil yang disandarkan pada tiang kayu. Di sana, beralaskan selembar karpet plastik biru yang sederhana, empat orang anak duduk melingkar dengan meja-meja lipat kecil di hadapan mereka.
Di balik tawa dan binar mata mereka yang polos, tersimpan sebuah perjuangan hidup yang teramat berat, sebuah perjuangan melawan rasa sakit yang mengalir di dalam darah mereka sendiri.
Anak-anak ini adalah para penyintas Thalasemia, sebuah kelainan darah genetik yang mengharuskan mereka berteman akrab dengan jarum suntik, ruang rumah sakit, dan kantong darah seumur hidup mereka. Akibat kondisi fisik yang sering kali menurun drastis pasca-transfusi, mimpi-mimpi mereka untuk mengenyam pendidikan formal perlahan meredup. Rasa lelah, minder karena sering absen, membuat mereka perlahan menarik diri dari sekolah umum.
Ketua Yayasan RedTI kita, Hendi Resmawan, menyebutkan dengan mata yang berkaca-kaca bahwa kegiatan ini terketuk karena diawali dari rasa prihatin mendalam melihat anak-anak penyintas Thalasemia yang hampir putus sekolah, terutama mereka yang masih berada di usia sekolah dasar.
Yayasan RedTI kita, yang sebelumnya bergerak aktif di bidang kemanusiaan dan kesehatan—khususnya dalam menyelenggarakan kegiatan donor darah—kini memutuskan untuk mengambil langkah berani. Mereka beranjak mengepakkan sayap ke dunia pendidikan. Mereka menyadari bahwa menyambung hidup dengan transfusi darah saja tidak cukup; anak-anak ini juga butuh menyambung masa depan mereka dengan ilmu pengetahuan melalui kegiatan Tolabul Ilmu.
Ada fakta menyedihkan sekaligus menyentuh: anak-anak ini sebenarnya bukan tidak ingin pintar, mereka hanya lelah menghadapi lingkungan luar. Kalau diminta pergi ke sekolah formal mereka sering kali merasa malas dan enggan karena keterbatasan fisik. Namun, ketika yayasan merubah strategi dengan memberikan tempat di lingkungan mereka sendiri artinya di tempat biasa mereka berkumpul dan merasa aman mereka justru menjadi sangat mau dan haus akan belajar.
Untuk itu, pihak yayasan tidak main-main. Mereka merekrut tenaga-tenaga pengajar relawan yang sudah piawai dalam menghadapi anak-anak yang harus diberi perlakuan khusus. Guru-guru yang datang tidak hanya membawa buku, tetapi juga membawa tumpukan kesabaran dan stok kasih sayang yang tak terbatas.
Melihat potret kegiatan di akhir Mei 2026 ini, siapapun yang menyaksikannya akan merasakan dada yang sesak oleh rasa haru yang mendalam. Seorang guru berhijab dengan lembut membimbing mereka, sementara anak-anak itu menatap papan tulis dengan fokus yang luar biasa. Gumpalan rasa sakit seolah menguap begitu saja. Bahkan, dedikasi mereka melampaui perkiraan; di tengah segala keterbatasan, mereka dengan riang meminta untuk diajarkan bahasa Inggris dan belajar mengaji Al-Qur'an. Bibir-bibir mungil yang kerap menahan sakit itu saat mereka dihadapkan pada jarum saat tranpusi darah, kini melantunkan ayat suci dan kosakata asing dengan penuh semangat.
Mereka, yang setiap bulannya harus merasakan dinginnya jarum infus menembus kulit demi bertahan hidup, kini duduk tegak memeluk buku dan menantang takdir dengan senyuman. Mereka mengajarkan kepada kita semua arti sesungguhnya dari bersyukur dan berjuang. Papan tulis kecil dan karpet biru di teras itu menjadi saksi bisu bahwa asa tidak boleh mati.
Perjalanan ini masih sangat panjang, dan pundak Yayasan RedTI kita tentu tak akan kuat jika harus berjalan sendirian. Pintu Imah Thalasemia Majakerta selalu terbuka lebar bagi siapapun yang ingin membagikan sedikit waktu, ilmu, maupun kasih sayangnya. Menjadi relawan pengajar bukan sekadar memberi ilmu, melainkan ikut menyambung napas impian mereka yang sempat patah.
Mari bergabung bersama kami. Karena satu jam kehadiran dan kepedulian Anda di sini, bisa menjadi lentera abadi yang menerangi masa depan anak-anak malaikat ini.
Di samping Imah Thalasemia itu GOR KONI Sajabat sedang ada Wisuda Diniyah se-Kecamatan Majalaya yang dihadiri Camat Majalaya beserta pejabat lainya, tidak berkenan melihat kegiatan yang dilakukan Redti. (*)