22
September 2026 20:02 WIB
PERISTIWA 44 Kali Dilihat

BPBD Perkuat Sosialisasi Potensi Gempa Bumi

AKusman

AKusman

Penulis

BPBD Perkuat Sosialisasi Potensi Gempa Bumi
BPBD Saat Gelar Sosialisasi dan Edukasi Potensi Gempa Bumi

SOREANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung terus mengoptimalkan sosialisasi, edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan potensi bencana gempa bumi. Terutama masyarakat yang ada di Kecamatan Pangalengan dan Kertasari Kabupaten Bandung, menyusul rentetan gempa bumi dangkal yang terjadi hingga 130 kali berdasarkan data seismograf di wilayah tersebut pada 11-17 September 2026.  

 

Hal ini dikatakan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Gamber Irmawan Premono di ruang kerjanya, Soreang, Selasa (22/9/2026). Pada kesempatan itu turut hadir Sekretaris BPBD Hendra Hidayat, dan para Kabid yang sama-sama fokus menyikapi persoalan gempa bumi yang terjadi di Pangalengan dan Kertasari belum lama ini. 

 

"Yang kita alami dari mulai tanggal 11 sampai 17 September 2026 lalu, ada gempa bumi di Pangalengan dengan kisaran 2 sampai 3,5 skala richter (SR). Getaran 3,5 SR sampai terasa di kawasan Bandung dan sekitarnya, sehingga banyak masyarakat yang merasakan getaran gempa tersebut," kata Gamber. 

 

Gamber mengatakan saat ia bersama Suaidi Ahadi, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung (Stasiun Geofisika Bandung) BMKG turun ke Pangalengan, diketahui sudah 130 kali getaran gempa bumi (11-17 September 2026). BMKG pun turut membahas terkait peristiwa gempa bumi tersebut.

 

"Karena kita khawatir gempa bumi yang sebelumnya kecil-kecil getarannya, tiba-tiba terjadi besar. Itu yang kita waspadai untuk sama-sama bersama masyarakat Pangalengan dan Kertasari Kabupaten Bandung dan sekitarnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan," ujarnya. 

 

Saat berada di Pangalengan, lanjut dia, bersama BMKG dan Camat Pangalengan turut melihat peta rawan bencana gempa. Kemudian mendatangi kawasan PT. Star Energy Geothermal Pangalengan, karena sebelumnya diinformasikan akan melakukan pengeboran sumur di sembilan titik sumur panas bumi.

 

"Ternyata belum dimulai rencana pengeboran 9 titik sumur di kawasan PT. Star Energy Geothermal tersebut. Dilihat dari peta juga penyebab getaran gempa bumi tidak mengarah ke lokasi di mana akan dibangun sumur bor tersebut. Termasuk patahan-patahan sesar juga tidak mengarah ke kawasan PT Star Energy. Bahkan dilihat dari peta, 9 titik yang akan dilakukan pengeboran sumur tidak berada di 130 titik lokasi gempa," jelasnya. 

 

Gamber menegaskan bahwa rentetan gempa bumi yang terjadi di Pangalengan dan sekitarnya itu, murni disebabkan oleh faktor alam. Bukan disebabkan oleh aktivitas manusia.

 

"BPBD bersama dengan Pak Camat Pangalengan berusaha untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, apabila terjadi gempa bumi yang lebih besar. Apabila terjadi gempa yang lebih besar, masyarakat sudah siap, khususnya bagi masyarakat yang disesuaikan dengan yang terdampak gempa bumi hampir 130 kali terjadi gempa tersebut," ujarnya. 

 

Dikatakan Gamber, masyarakat juga sudah diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan apabila terjadi gempa bumi. Apalagi di Pangalengan itu sudah belajar dari kejadian-kejadian gempa bumi sebelumnya. 

 

"Diharapkan mereka sudah lebih waspada dan sudah bersiap apabila terjadi bencana alam gempa bumi," harapnya. 

 

Setelah dilakukan pemantauan ke lapangan, kata Gamber, pasca terjadi rentetan gempa bumi dangkal itu, masyarakat Pangalengan masih terlihat tenang-tenang saja. 

 

"Mudah-mudahan tidak terjadi gempa susulan yang lebih besar," harapnya.

 

Menurutnya, BPBD bersama BMKG juga turut memberikan edukasi kepada masyarakat. "Lebih baik kita bersiap terhadap ancaman bencana alam gempa bumi. Dari pada kita tidak siap. Jadi kita lebih baik siap siaga, walaupun gempa buminya tidak jadi. Dari pada kita tidak siap ternyata ada gempa bumi besar," ungkapnya. 

 

Untuk menindaklanjuti peristiwa gempa bumi yang terjadi di Pangalengan itu, katanya, BPBD berencana melaksanakan rakor dengan mengundang BMKG untuk menjelaskan secara detil kejadian yang sebenarnya yang terjadi di Pangalengan tersebut. 

 

"Dari BMKG sudah menyiapkan bahan-bahannya dan menjelaskan secara detil. Baik itu menjelaskan kesiapsiagaan perubahan cuaca dari mulai kemarau ke musim hujan. Termasuk menjelaskan peristiwa gempa bumi yang terjadi di Pangalengan," ujarnya. 

 

Lebih lanjut Gamber mengatakan, bahwa BPBD akan terus memberikan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Apabila ada gempa untuk bertindak dan berbuat seperti apa saat berada di dalam rumah, bangunan maupun di luar rumah atau lapangan terbuka. 

 

"Termasuk apa yang harus disiapkan dan harus tetap tenang. BPBD juga berusaha untuk selalu ada di lapangan, dalam memberikan edukasi kepada masyarakat guna meningkatkan kesiapsiagaan," ujarnya. 

 

Melalui penambahan anggaran, kata dia, BPBD juga mengoptimalkan pelaksanaan sosialisasi di Pangalengan, Kertasari dan tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Bandung. 

 

"Karena gempanya banyak terjadi di wilayah Pangalengan, kita fokus melaksanakan sosialisasi dan edukasi di Pangalengan," ungkapnya. 

 

Gamber mengatakan mengoptimalkan melaksanakan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di Pangalengan itu karena sudah ada potensi gempa bumi seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. 

 

"Untuk dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk simulasinya di lapangan apabila terjadi gempa bumi. Karena ini bukan wacana, tetapi di Pangalengan sudah ada potensi gempa bumi. Di Pangalengan juga harus dibentuk tim-tim yang betul-betul kuat dalam memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait potensi bencana gempa tersebut. Pentingnya memberikan pemahaman kepada masyarakat. Apa dan berbuat apa. Dan siapa harus melakukan apa? Itu yang harus diperkuat dalam edukasi kepada masyarakat di lapangan," tuturnya.**

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!