Saung Angklung Udjo, 5M yang Mendunia.
Written on December 12, 2008 – 3:53 pm | by Annisa
Berkat usaha dari sebuah sanggar kesenian Saung Angklung Udjo (SAU) yang didirikan oleh Mang Udjo (Udjo Ngalagena), alat musik tradisional asal Jawa Barat itu kini tidak hanya popular di Bumi Pasundan dan Indonesia. Saat ini, angklung telah dikenal hingga ke mancanegara ; mulai dari Asia hingga Eropa dan Amerika. Awalnya pada 1967, Mang Udjo dan Uum Sumiati mendirikan SAU : Sundanese Art & Bamboo Craft Center hanya dengan memanfaatkan halaman rumah yang tak seberapa luas.
Menurut artikel yang diambil dari majalah Indonesia BusinessWeek Edisi 31tgl.5 November 2008, SAU ini sekarang dipimpin oleh generasi kedua dari SAU yaitu Taufik Hidayat Udjo. Sebelum meninggal, ayah Taufik berpesan agar meneruskan pengelolaan sanggar tersebut. Taufik pun langsung memutar otak. Filosofi Daeng Soetigna yang merupakan guru dari Mang Udjo, dalam memperkenalkan angklung ia pegang teguh. dan Filosofi itu dikenal dengan 5M yaitu : mudah, murah, menarik, massal dan mendidik. Dengan konsep itu, Taufik langsung berbenah. Ia ingin citra tradisional angklung di SAU tetap menonjol. Ia juga mencoba berkolaborasi dengan aliran musik lain mulai dari pop, jazz, rock, hingga klasik yang tidak meninggalkan citra angklung sebagai kesenian Sunda. Pada tahun 2000, Taufik mengolaborasikan SAU dengan Sherina dalam satu pentas. Mereka juga pernah berkolaborasi dengan Doel Sumbang, Inul Daratista, dan Krisdayanti.
Dalam mengembangkan padepokannya, yang pertama ia lakukan adalah memperluas lokasi. SAU tadinya hanya menempati halaman rumah kini memiliki luas hampir mencapai 1 hektare. Ditempat itu dibangun gedung utama berkapasitas 600 orang sebagai tempat pertunjukan. Dalam setiap pentas, SAU selalu menampilkan kegiatan Kaulinan Urang Lembur, Arumba, Topeng Sunda, Rampak Kendang, Calung Cilik, Kecapi Suling dan Angklung interaktif yang melibatkan penonton. Tidak hanya menghibur dengan suguhan kesenian, Taufik dkk juga mengajarkan cara memainkan alat musik tersebut. Di setiap pertunjukan dibagikan angklung made in SAU ke pengunjung. Untuk kebutuhan ini dan pentas lain, SAU memproduksi 8.000 angklung setiap bulan. Ini juga untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung yang datang ke padepokan itu, yang jumlahnya mencapai puluhan orang perhari. Untuk tamu-tamu dari luar Bandung atau luar negeri, Taufik menyediakan guess house berkapasitas 50 orang. SAU juga menerima paket “homestay” bagi mereka yang mempelajari angklung dan seni Sunda lainya. Slah satunya diikuti oleh peserta peraih beasiswa Indonesian Art and Cultural Scholarship yang digagas Departemen Luar Negeri dan peserta dari Negara-negara di Asia Pasifik.
Lewat usaha keras Taufik sanggar kesenian itu mendapat kesempatan tampil di luar negeri bahkan hingga penghujung 2008 ini SAU sudah 30 kali unjuk kebolehan di seluruh dunia. Pentas diluar negeri sebanyak itu memang melampaui target yang dicanangkan Taufik pada awal 2008 yaitu, sebanyak 15 kali. Permintaan pentas di dalam negeri juga bejibun. Pada Agustus lalu, Taufik dan segenap krunya pentas di Frankfurt (Jerman) bersama musisiternama Dwiki Dharmawan. Tahun depan mereka akan ke Hamburg (Jerman). Kerja keras Taufik ternyata membuahkan hasil, dari sisi financial ayah dari 3 orang anak ini menargetkan SAU meraup pendapatan sekiatr Rp.20 miliar pada akhir 2008. tahun depan, jumlah itu diperkirakan akan meningkat. Hal ini tentu saja membuat Taufik memiliki tingkat kepuasan yang sangat tinggi atas kerja kerasnya karena apa yang ia dapatkan ternyata lebih besar dari yang diinginkan. Ini merupakan salah satu theory kepuasan kerja yaitu, discrepancy positif theory.
SAU yang berlokasi dijalan Padasuka (Bandung) ditetapkan menjadi salah satu padepokan seni unggulan untuk mendukung Visit Indonesia Years 2008 dan Visit West Java Years 2008. Dengan segudang keberhasilan itu, wajar jika Agustus lalu mereka dianugerahi Danamon Award 2008 sebagai pemenang terbaik usaha skala menengah. Sebelumnya, di Jaju Island (Korea Selatan), SAU berhasil meraih penghargaan Heritage and Culture Gold Award dari PATA Award. Kepuasan kerja seseorang dilihat dari seimbangnya antara harapan dan kenyataan. Salah satu faktor yang merupakan sumber kepuasan kerja adalah achievement, recognition, and work it self. Seluruh harapan dari Taufik hampir semua telah menjadi kenyataan sampai ia telah mendapatkan banyak penghargaan dari prestasinya, ini berkat usaha dan kerja kerasnya selama ini yang telah mengelola sanggar kesenian SAU dengan sangat baik. Tentunya ia merasakan kepuasan kerja yang tinggi atas pencapaian hasil kerja ini. Masih banyak lagi keinginan-keinginan dari Taufik, salah satunya mereka ingin pentas di Jakarta Internasional Java Jazz Festival. Jika mimpi itu menjadi kenyataan, kita akan menyaksikan alat musik yang terbuat dari bambu wulung (bambu hitam) tersebut berkolaborasi dengan para musisi jazz dunia.

One Response to “Saung Angklung Udjo, 5M yang Mendunia.”
By irfan on Sep 4, 2010 | Reply
belum sempet main kesana