Warga Bandung
Written on November 29, 2008 – 1:39 pm | by Fifi Afiany
Masalah-masalah yang muncul di bidang kependudukan merupakan salah satu isu penting dan mendasar yang menjadi perhatian dunia, khususnya di negara-negara berkembang. Beberapa dimensi kependudukan yang menuntut perhatian penting antara lain pertumbuhan penduduk yang masih tinggi, jumlah, struktur, dan komposisi penduduk. Dunia dituntut untuk memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadap dampak dari pertumbuhan penduduk, fertilitas, dan mortalitas yang tinggi terhadap kesejahteraan umat manusia dan dampaknya terhadap marjinalisasi dan pemiskinan penduduk, khususnya kaum perempuan.
Tingginya laju pertumbuhan penduduk merefleksikan kuatnya tekanan terhadap kesejahteraan rumahtangga, yang pada akhirnya akan membebani tingkat perekonomian rumahatangga itu. Karena itu, masalah kependudukan merupakan objek yang harus diperhatikan dalam proses pembangunan. Masalah kependudukan tersebut antara lain jumlah, komposisi, dan distribusi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin memperlihatkan sebera besar komposisi penduduk perempuan dan laki-laki di suatu daerah. Jika penduduk dipilih berdasarkan golongan umur maka dapat ditentukan apakah penduduk wilayah tersebut termasuk golongan penduduk muda atau tua.
Jumlah Laju Penduduk Kota Bandung, merupakan potensi yang kuat bagi kelancaran proses pembangunan. Namun di sisi lain, terlalu banyaknya jumlah penduduk justru akan menjadi beban pembangunan, jika jumlah penduduk yang besar memiliki kualitas SDM yang rendah. Penduduk Kota Bandung berdasarkan hasil Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2003 adalah 2.228.268 orang, dengan rincian 1.115.001 orang laki-laki (50,4%) dan 1.113.267 orang perempuan (49,96%). Apabila kita bandingkan dengan hasil Susenas 2002, ternyata pada tahun 2003 ini mengalami penambahan jumlah penduduk sebanyak 85.354 orang, dari 2.142.914 orang menjadi 2.228.268 orang, sehingga Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) untuk tahun yang bersangkutan adalah 3,98%.
Komposisi Penduduk Laki-laki dan Perempuan, menjadi pokok untuk dianalisis adalah komposisi penduduk menurut struktur dan jenis kelamin. Kedua hal tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh perilaku demografi dan mudah dikombinasikan dengan karakteristik sosial, ekonomi maupun geografis. Alat ukur yang digunakan untuk menganalisis komposisi penduduk menurut jenis kelamin adalah rasio jenis kelamin (sex ratio). Rasio jenis kelamin penduduk Kota Bnadung pada tahun 2003 adalah sebesar 100,16 yang berarti bahwa 100 penduduk perempuan secara rata-rata terdapat 100,16 penduduk laki-laki. Salah satu alat ukur yang juga sering digunakan dalam mengamati struktur umur adalah angka beban ketergantungan. Angka beban ketergantungan merupakan perbandingan antara penduduk yang berusia produktif dengan penduduk yang berusia tidak produktif. Ukuran ini biasanya dikaitkan dengan penggolongan usia penduduk.
Pendidikan warga kota Bandung sangat bervariatif. Mengingat pendidikan merupakan suatu kebutuhan penting bagi seluruh masyarakat. Dengan pendidikan, masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan memperluas wawasan. Di samping itu pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, semakin baik kualitas sumber dayanya. Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana program pendidikan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bagaimana kesempatan pendidikan terbuka untuk semua orang, diperlukan data dan informasi yang akurat. Berdasarkan hasil Susenas tahun 2003 diperoleh beberapa indikator pendidikan, seperti Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Putus Sekolah (APTS), dan indikator lainnya.
Angka Partisipasi Kasar (APK), sebagai cara mengukur tingkat partisipasi pendidikan anak di suatu wilayah digunakan APK. Sebagai salah satu indikator tingkat pendidikan dengan memperhitungkan proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan. Angka ini memberikan gambaran secara umum mengenai jumlah anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu, dan biasanya tidak memperhatikan umur siswa.
APK suatu jenjang pendidikan bisa mempunyai nilai lebih dari 100%. Hal ini diakibatkan oleh adanya siswa yang berusia di luar batasan usia sekolah. Kota Bandung masih terdapat APK SD adalah 100,53%. Artinya terdapat siswa yang berusia di luar usia sekolah dasar (kurang dari 7 tahun atau lebih dari 12 tahun).
APK laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan, kecuali pada jenjang pendidikan SLTP dimana APK perempuan lebih tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan ternyata semakin rendah APK-nya. Hal ini berlaku baik laki-laki maupun perempuan.
Angka Partisipasi Murni (APM), Indikator lain yang sering digunakan untuk mengukur tingkat pendidikan penduduk adalah angka APM. APM mengindikasikan proporsi anak sekolah pada suatu kelompok umur tertentu yang bersekolah pada tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya. APM selalu lebih rendah dibandingkan APK karena pembilangannya lebih kecil sementara penyebutnya sama. Hal ini dikarenakan APM membatasi usia siswa sesuai dengan jenjang pendidikan.
APM yang mendekati nilai 100 menunjukkan bahwa hampir semua penduduk bersekolah tepat waktu, sesuai dengan usia sekolah dan jenjang pendidikannya. Secara umum APM laki-laki cenderung lebih tinggi daripada permpuan. Usaha pemerintah daerah Kota Bandung untuk memajukan wajib belajar harus terus didukung agar APM semakin tinggi.
Angka Partisipasi Sekolah (APS), pada kelompok umur 13 – 15 tahun APS perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dimana APS perempuan pada kelompok umur pendidikan tersebut mencapai 92,94% sedangkan APS laki-laki hanya 89,47%. Akan tetapi apad kelompok umur pendidikan 16 – 18 tahun APS laki-laki kembali lebih tinggi dibanding APS perempuan.
Angka Putus Sekolah (APTS), APTS merefleksikan tingkat kegagalan sistem pendidikan menurut jenjangnya. Indikator ini menggambarkan kemampuan penduduk usia sekolah untuk menyelesaikan pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikan pada usia tersebut. Misalnya penduduk usia 7 – 12 tahun yang seharusnya dapat menyelesaikan pendidikan pada jenjang SD, namun karena faktor ekonomi mereka harus putus sekolah.
APTS penduduk laki-laki Kota Bandung pada umumnya lebih rendah dibanding perempuan. Semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin besar pula APTS. Seperti pada uraian sebelumnya tentang APS, ternyata APTS perempuan juga lebih rendah daripada laki-laki untuk usia sekolah 13 – 15 tahun, APTS perempuan 7,06% sedangkan laki-laki sebesar 10,53%. Namun pada kelompok usia 16 – 18 tahun , APTS laki-laki kembali lebih rendah dibanding perempuan yaitu 29,13% berbanding 32,54%. Hal ini diduga karena pada usia tersebut kaum perempuan lebih memilih untuk bekerja dibandingkan untuk sekolah.
Ketenagakerjaan, Indikator ketenagakerjaan dapat menggambarkan berapa besar daya serap perekonomian terhadap pertumbuhan penduduk dan produktivitas tenaga kerja. Angka pengangguran yang meningkat sedikit banyak menggambarkan ketikmampuan perekonomian menyerap pertumbuhan tenaga kerja. Apabila angka pengangguran terus menerus meningkat maka akan mengakibatkan timbulnya kerawanan sosial.
Indikator tenaga kerja yang ditampilkan selain dapat menggambarkan daya serap perekonomian terhadap pertumbuhan tenaga kerja, juga dapat menggambarkan tingkat produktivitas tenaga kerja menurut wilayah, sektor, dan jenis kelamin, yang diharapkan berguna bagi para pengambil keputusan untuk menyusun strategi pemberdayaan tenaga kerja dalam rangka pengembangan SDM.
Lapangan Pekerjaan, Proporsi penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan biasa dipakai sebagai salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja. Indikator tersebut juga biasa digunakan sebagai salah satu ukuran untuk menunjukkan struktur perekonomian suatu wilayah. Lapangan kerja di bidang industri dan perdagangan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kota Bandung, baik laki-laki maupun perempuan.
Tags: Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Putus Sekolah (APTS), Jumlah Laju Penduduk Kota Bandung, Kependudukan, Ketenagakerjaan, Komposisi Penduduk Laki-laki dan Perempuan, Lapangan Kerja, Pendidikan, Tenaga Kerja, Warga Bandung


2 Responses to “Warga Bandung”
By Wawan Darmawan on Sep 4, 2009 | Reply
Ke Bandung ? Naik KA, Hemat Aman Nyman, di Stn di jemput Rp 40.000 dalam Kota Bandung, putar putar seharian Rp. 250.000, ada wisma murah,
konfirmasi sms 081321294274, Email :waonefp3@gmail.com sambil beramal bantu orng Jobless dan kemiskinan.
By Lombok Travelnet on Nov 7, 2009 | Reply
Mohon share informasi hotel bintang 2 atau 3 yang paling dekat dengan Pusat Perbelanjaan di Kota Bandung terutama Cibaduyut dan Cihampelas.
Wassalam,
Basri
Lombok Travelnet
http://www.lomboktravelnet.com